Rabu, 13 Desember 2017

KEBUGARAN JASMANI GENERASI "Z"

Masa depan Bangsa Indonesia sangatlah ditentukan oleh para generasi muda Bangsa ini. Kaum Muda Indonesia adalah masa depan Bangsa ini. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus pelajar, mahasiswa ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya merupakan faktor-faktor penting yang sangat diandalkan oleh Bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan juga mempertahankan kedaulatan Bangsa.
Dalam upaya mewujudkan cita-cita dan mempertahankan kedaultan bangsa ini tentu akan menghadapi banyak permasalahan, hambatan, rintangan dan bahkan ancaman yang harus dihadapi. Masalah-masalah yang harus dihadapi itu beraneka ragam. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, masalah yang timbul sekarang maupun masalah yang timbul di masa depan negara kita. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas bangsa Indonesia adalah dengan cara memperbaiki kualitas pendidikan, penddikan merupakan faktor utama dalam pengembangan kualitas Bangsa Indonesia. Pendidikan saat ini menjadi prioritas perhatian yang sangat serius, hal tersebut tercemin dari alokasi anggaran yang di rencanakan pemerintah memiliki persentase cukup banyak dibandingkan dengan bidang lainya. 
Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh faktor anggaran saja, tetapi banyak sekali faktor yang memiliki peranan penting terhadap kualitas pendidikan di Indonesia, terutama pada level pendidikan tingkat dasar dan pendidikan tingkat menengah.  pada tingkatan tersebut merupakan kategori generasi Z, generasi yang lahir antara tahun 1995-2014. Sebelumnya terkenal dengan generasi milenial yang juga punya nama lain Generasi Y, adalah kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997. Mereka disebut milenial karena satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923.  Dalam artikel berjudul "The Problem of Generation" sosiolog Mannheim mengenalkan teorinya tentang generasi. Menurutnya, manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio sejarah yang sama. Maksudnya, manusia-manusia zaman Perang Dunia II dan manusia pasca PD II pasti memiliki karakter yang berbeda, meski saling memengaruhi.
Era digital atau sering kita sebut sebagai era modern seperti sekarang ini, kehidupan para remaja telah jauh berbeda dengan kehidupan remaja pada zaman dulu. Kita telah dimanjakan dengan kemudahan dan kecanggihan teknologi untuk melakukan suatu hal yang akan kita lakukan, akan tetapi hal ini juga dapat merugikan. Teknologi modern layaknya internet, ponsel, komputer atau fasilitas game, bisa membuat dua sisi bagi remaja saat ini, yaitu dampak positif dan dampak negative terutama terhadap kualitas pendidikan. 
Hasil penelitian terbaru mencatat pengguna internet di Indonesia yang berasal dari kalangan anak-anak dan remaja diprediksi mencapai 30 juta. Penelitian juga mencatat ada kesenjangan digital yang kuat antara anak dan remaja yang tinggal di perkotaan dengan yang tinggal di pedesaan. Data tersebut merupakan hasil penelitian berjudul "Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia" yang yang dilakukan lembaga PBB untuk anak-anak, UNICEF, bersama para mitra, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Universitas Harvard, AS. Studi ini menelusuri aktivitas online dari sampel anak dan remaja yang melibatkan 400 responden berusia 10 sampai 19 tahun di seluruh Indonesia dan mewakili wilayah perkotaan dan pedesaan. Sebanyak 98 persen dari anak dan remaja mengaku tahu tentang internet dan 79,5 persen di antaranya adalah pengguna internet. Dalam penelitian ini terdapat sekitar 20 persen responden yang tidak menggunakan internet. Alasan utamanya adalah tidak memiliki perangkat atau infrastruktur untuk mengakses internet atau mereka dilarang oleh orang tua untuk mengakses internet.
Terkait data tersebut di atas, aktifitas gerak anak di Indonesia berkurang dikarenakan adanya internet yang berada di genggaman tangan melalui smartphone mereka. Berkurangnya aktifitas gerak akan mempengaruhi tingkat kebugaran fisik seseorang. Kualitas belajar siswa salah satunya dipengaruhi oleh tingkat kebugaran fisiknya, hal tersebut senada dengan hasil penelitian dari Eero A. Haapal, dkk (2016) tentang hubungan aktifitas fisik terhadap perkembangan akademik pada anak usia 6-8 tahun, hasilnya membuktikan bahwa gaya hidup yang lebih aktif secara fisik dapat memberikan manfaat bagi pengembangan keterampilan membaca pada anak laki-laki pada tahun pertama sekolah.
Faktor yang mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani siswa menurut Perryihoard (1997) adalah umur, jenis kelamin, somatotipe, kondisi kesehatan, status gizi, berat badan, waktu istirahat serta aktifitas jasmaniah. Dari pendapat tersebut dapat ditelaah aktifitas jasmaniah memegang peranan yang cukup penting terhadap status kebugaran jasmani seseorang. Siswa pada era digital saat ini memiliki waktu aktifitas fisik lebih sedikit dari pada siswa pada era sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan adanya beberapa faktor, mulai dari tuntutan akademik yang sangat tinggi serta maraknya media sosial yang menyebabkan tersitanya waktu untuk melakukan aktifitas fisik. 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebugaran siswa pada rentang usia 7-18 tahun di kota malang, usia tersebut termasuk pada kategori gnerasi Z. dengan mengetahui tingkat kebugaran jasmani siswa diharapkan akan mengetahui tingkat korelasi terhadap capaian prestasi siswa sekolah di Malang. Penelitian yang dilakukan oleh Geir K. Resaland, dkk (2016) di Norwegia menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kebugaran jasmani dengan pretasi akedemik siswa.  Erin K. Howie (2012) melakukan penelitian senada di Amerika yang menunjukkan hasil bahwa aktifitas fisik memiliki kontruksi berkaitan dengan prestasi akademik siswa.  





Kamis, 29 Oktober 2015

LATIHAN TEKNIK

         Salah satu faktor latihan dalam mencapai prestasi adalah teknik. teknik merupakan faktor latihan yang kedua setelah fisik. walaupun faktor yang kedua, latihan teknik harus diberikan lebih awal dari pada latihan fisik. Penguasaan teknik yang baik akan memudahkan dalam menerapkan taktik bermain ataupun bertanding.  
             Menurut Suharno (1975), teknik adalah suatu proses gerakan dan pembuktian dalam praktek dengan sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas yang pasti dalam cabang olahraga. Latihan teknik merupakan latihan keterampilan untuk meningkatkan kesempurnaan teknik (skill). Keterampilan teknik merupakan kemampuan melakukan gerakan-gerakan teknik yang diperlukan dalam cabang olahraga. Menurut Bompa (1994), teknik mencakup keseluruhan struktur teknik dan bagian-bagian yang tergabung dengan seksama dan gerakan-gerakan yang efisiean seorang atlet dalam usahanya melakukan tugas berolahraga. Keterampilan teknik merupakan bagian penting dalam pencapaian prestasi. Tanpa keterampilan teknik yang baik maka seorang atlet tidak mungkin akan mampu menampilkan permainan atau gaya yang baik dan benar dalam suatu cabang olahraga. Teknik dalam setiap cabang olahraga akan selalu berkembang sesuai dengan tujuan dan peraturan permainan yang semakin tinggi tuntutannya, yaitu pencapaian keterampilan dan prestasi yang setinggi mungkin. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut maka latihan keterampilan teknik secara proporsional harus mendapat prioritas utama dalam suatu susunan program latihan.
Tujuan latihan teknik adalah untuk mempertinggi keterampilan gerakan teknik dan memperoleh otomatisasi gerakan teknik dalam suatu cabang olahraga. Otomatisasi gerakan ditandai oleh hasil gerakan yang ajeg dan konsisten, sedikit sekali atau jarang melakukan kesalahan gerakan, dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda dan berubah-ubah selalu dapat melakukan gerakan dengan konsisten.  
Teknik dibedakan menjadi tiga katagori yaitu teknik dasar, teknik menengah dan teknik tinggi. Pengatagorian teknik tersebut berdasarkan tingkatan kesulitan dalam melakukan gerakan, kebutuhan kemampuan fisik yang mendukung keterampilan teknik, banyaknya aspek lain yang mempengaruhi gerakan, kompleksitas dan variasi gerakan teknik yang memerlukan koordinasi, dan tuntutan kebutuhan keterampilan teknik gerakan dalam permainan.
Teknik dasar adalah suatu teknik dimana proses melakukan gerakan merupakan fondamen dasar, gerakan dilakukan dalam kondisi sederhana dan mudah. Latihan teknik dasar biasanya dilakukan oleh seseorang yang baru mempelajari teknik suatu cabang olahraga tertentu dan mempunyai tingkat penguasaan keterampilan pemula. Bahan latihan yang diberikan tentunya dimulai dari bagian-bagian gerakan teknik dasar  yang paling sederhana dan mudah. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan teknik dasar secara keseluruhan, tetapi masih dengan tingkat kesulitan gerakan yang rendah. Gerakan teknik keselurugan tersebut masih sangat mudah, belum banyak  kombinasi dan variasi gerakan yang lebih sulit.
Teknik menengah adalah suatu teknik dimana dalam melakukan gerakan menuntut penggunaan kecepatan, kekuatan, kelincahan dan koordinasi yang lebih tinggi daripada teknik dasar. Teknik menengah merupakan lanjutan dari teknik dasar. Untuk dapat melakukan teknik menengah harus menguasai keterampilan teknik dasar lebih dahulu.
Teknik tinggi adalah suatu teknik dimana dalam melakukan proses gerakan menuntut tempo yang tinggi, koordinasi, keseimbangan, ketepatan yang tinggi serta gerakan tersebut sulit, simultan dalam kondisi yang sangat berat (Bompa: 1994).    

            Langkah-langkah latihan gerakan teknik adalah sebagai berikut. Pertama, pelatih memberikan penjelasan dan memperagakan gerakan teknik secara keseluruhan tentang gerakan teknik yang akan dilatihkan. Kedua, atlet melakukan latihan gerakan teknik dasar dengan memperhatikan kunci-kunci gerakan. Ketiga, atlet melakukan latihan gerakan teknik dasar secara utuh dalam situasi dan kondisi yang sederhana. Keempat, tempo latihan ditingkatkan dan mengulang-ulang latihan teknik dasar dengan menggunakan kekuatan, kecepatan dan koordinasi yang agak lebih sulit. Kelima, mempersulit jenis dan bentuk-bentuk latihan teknik. Keenam, latihan keterampilan teknik lanjutan yang lebih tinggi. Ketujuh, meningkatkan efektifitas gerakan teknik dibarengi dengan pembentukan fisik. Kedelapan, mencoba keterampilan teknik dalam situasi permainan sederhana. Kesembilan, penguasaan keterampilan teknik secara sempurna dan otomatis yang diterapkan dalam pertandingan. (Suharno: 1985).

Rabu, 20 Mei 2015

FLEXIBILITY

Fleksibilitas merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang mempunyai peranan penting. Baik untuk olahragawan ataupun yang bukan olahragawan. Peranan tersebut bagi non olahragawan adalah untuk menunjang aktivitas kegiatan sehari-hari. Sedangkan bagi para olahragawan yang terlibat dalam cabang olahraga yang banyak menuntut keluwesan gerak seperti senam, judo, gulat, atletik, dan cabang-cabang olahraga permainan lainnya. Fleksibilitas yang dimiliki seseorang biasanya menggambarkan kelincahan seseorang dalam geraknya. Bahkan bagi para olahragawan yang terlibat dalam cabang olahraga yang dominan unsur fleksibilitasnya, tingkat fleksibilitasnya yang tinggi akan menampakkan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan olahragawan yang tingkat fleksibilitasnya rendah.
Menurut beberapa ahli, definisi fleksibilitas adalah sebagai berikut: (1) Menurut Harsono (1988) ” fleksibilitas adalah kemampuan untuk melakukan gerakan dalam ruang gerak sendi. Kecuali oleh ruang gerak sendi, kelentukan juga ditentukan oleh elastisitas tidaknya otot-otot, tendon dan ligament”. (2) Menurut Sajoto (1990) “Daya lentur (fleksibilitas) adalah efektivitas seseorang dalam penyesuaian diri untuk segala aktivitas dengan penguluran tubuh yang luas”. (3) Claude Bochard (1978) dalam  Edu (2010) ”fleksibilitas adalah kualitas yang memungkinkan suatu segmen bergerak memaksimal mungkin menurut kemungkinan gerak (range of movement)”.  (4) Rusli Lutan (2003) “fleksibilitas didefinisikan sebagai kemampuan dari sendi dan otot, serta tali sendi di sekitarnya untuk bergerak dengan leluasa dan nyaman dalam ruang gerak maksimal yang diharapkan, Fleksibilitas yang optimal memungkinkan sekelompok atau suatu sendi untuk bergerak secara efisien”. (5) Iskandar dkk (1999) “Fleksibilitas adalah kemampuan sendi untuk melakukan gerakan sendi secara maksimal, dengan kata lain fleksibilitas merupakan kemampuan sendi untuk melakukan gerakan secara maksimal di dalam ruang gerak sendi”. (6) Menurut AAHPERD (1999) dalam Gallahue dan Ozmun (1998), “Flexibility is the ability of a joint and the muscles and tendons surrounding it to move freely and comfortably through its intended full range of motion (ROM)." Maksud dari pernyataan tersebut bahwa fleksibilitas adalah kemampuan dari sendi, otot, dan tendon-tendon di sekitarnya untuk dapat digerakkan dengan bebas dan nyaman, maksudnya adalah ruang gerak yang luas. (7) M. Furqon (1995) “Fleksibilitas adalah suatu kemampuan untuk menggunakan lebar ayunan gerakan-gerakan dalam persendian ke kemampuan maksimum. Lebar ayunan gerakan-gerakan (keluasaan gerakan-gerakan) dalam tulang-tulang sendi harus dilatih dalam semua arah yang mungkin sesuai dengan struktur anatomi tubuh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan fleksibilitas menurut Nur Ikhsan Halim (2004) antar lain: (1) Genetik: Bentuk, tipe, dan struktur sendi serta ligamentum dan tendo yang terkait dengan sendi tersebut. faktor yang menyangkut sendi ini sulit diubah karena bersifat genetik atau keturunan. Sedangkan faktor ligamentum dan tendo masih memungkinkan bisa diubah. (2) Otot: Otot yang berkaitan dengan sendi, ada otot yag bekerja agonis (paralel), beberapa kelompok otot bekerja sama dan searah. Selain itu ada pula ada otot yang bekerja antagonis (berlawanan) yaitu sekelompok otot yang kerjanya bertentangan dengan otot kelompok lainnya. (3) Umur (anak besar): Anak besar adalah anak yang berusia antara 6 sampai dengan 10 atau 12 tahun (Sugiyanto dan Sudjarwo, 1992). Menurut penelitian Valdiavia (2006) dalam Nidya (2010) puncak tertinggi fleksibilitas trunk ditemukan pada anak usia 7 – 8 tahun dengan nilai 10 cm. (4) Jenis kelamin: Jenis kelamin (bahasa Inggris: sex) adalah kelas atau kelompok yang terbentuk dalam suatu spesies sebagai sarana atau sebagai akibat digunakannya proses reproduksi seksual untuk mempertahankan keberlangsungan spesies itu. (5) Suhu: Suhu tubuh dan suhu otot mempengaruhi fleksibilitas, terutama amplitude gerakan. Oleh sebab itu, pemanasan perlu dilakukan sebelum latihan fleksibilitas. (6) Waktu: Fleksibilitas tertinggi dicapai pada pukul 10-11 siang dan terendah di pagi hari. (7) Kekuatan otot: Semakin besar kekuatan otot akan semakin tinggi fleksibilitasnya. Otot yang diperlukan mengalami kontraksi, dan ada gerakan memanjangkan dan memendekkan otot saat melakukan gerakan. 
Fleksibilitas menurut beberapa ahli memiliki beberapa jenis. Menurut Gallahue dan Ozmun, (1998), bahwa fleksibilitas dibagi menjadi dua yaitu fleksibilitas statis dan dinamis, fleksibilitas statis adalah keleluasaan gerakan pada persendian, sedangkan fleksibiltas dinamis adalah keleluasaan gerakan yang paling tinggi pada persendian, misalnya pada permainan tenis, pada gerakan forehand. Menurut Johan Rosario (2009), ada tiga jenis fleksibilitas: (1) Aktif Dynamic Range .- fleksibilitas pergerakan dalam suatu kontraksi otot yang cepat dan kuat. Contoh fleksibilitas ini adalah melompat dengan hip fleksi, ekstensi dan berenang di bahu. (2) Aktif fleksibilitas statis. Rentang gerakan dalam aktivitas otot lambat dan dikendalikan. Para pesenam flip mundur membutuhkan fleksibilitas semacam ini. (3) Fleksibilitas Pasif rentang gerak yang diperlukan ketika sebuah kekuatan eksternal diterapkan. Banyak gerakan perjuangan membutuhkan fleksibilitas pasif.
Manfaat dari tingkat fleksibilitas yang baik adalah: (1) mengurangi kemungkinan terjadinya cidera pada otot dan sendi (2) membantu dalam mengembangkan kecepatan, koordinasi, dan kelincahan (3) menghemat dalam mengeluarkan tenaga dalam pergerakannya (4) membantu dalam memperbaiki sikap tubuh. Rusli Lutan dkk (2003). Sementara Menurut Clark dalam Mochamad Sajoto (1988) fleksibilitas sering dianggap sebagai suatu faktor tunggal dalam ketrampilan. Faktor yang menunjang dalam melakukan aktifitas gerak adalah fleksibilitas, karena manfaat yang diperoleh dari fleksibilitas dapat membantu otot untuk rileks, meningkatkan kesehatan, menghilangkan kejang otot, dan mengurangi potensi cidera.
            Metode latihan fleksibilitas menurut beberapa ahli ada empat macam, yang pertama adalah peregangan dinamis (dinamic stretching/balistic stretching), yang kedua adalah peregangan statis (static stretchig), yang ketiga adalah peregangan pasif (passive stretching), dan yang terakhir adalah dengan peregangan kontraksi rileksasi atau propioceptive neuromuscular facilitation (PNF).
(diambil dari berbagai sumber)

Selasa, 19 Mei 2015

STRENGHT TRAINING

Pencapaian prestasi olahraga dapat maksimal jika faktor-faktor prestasi terpenuhi atau tercukupi dengan baik. Faktor dalam olahraga untuk prestasi adalah yang pertama fisik, selanjutnya teknik, taktik, serta mental bertanding. Faktor fisik adalah faktor utama dan paling fundamental yang harus dikembangkan dalam mencapai prestasi yang maksimal. Kemampuan fisik dalam olahraga terdiri dari berbagai macam komponen. Salah satunya yang paling utama adalah postur tubuh. Seorang atlit yang memiliki postur tubuh yang ideal akan memiliki kemampuan fisik yang baik pula, tentunya hal itu ditunjang dengan latihan yang tepat. Dalam olahraga secara umum komponen  fisik kekuatan atau strenght adalah komponen yang utama dan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses latihanya. 
Kekuatan mempengaruhi kemampuan komponen fisik lainya. Kecepatan sangat tergantung dari seberapa baik kekuatan atlit dalam melakukan aktivitas secara cepat, begitu pula dengan keseimbangan, kelincahan dan masih banyak lagi komponen kondisi fisik yang dipengaruhi oleh kekuatan. Menurut beberapa ahli kekuatan didefinisikan sebagai berikut:
(Kent,1994) kekuatan adalah tegangan sebuah otot atau lebih yang bekerja melawan suatu tahanan dengan usaha maksimal.
(Golding dan Bos, 1968) kekuatan isometrik atau suatu kontraksi maksimum melawan suatu tahanan maksimum. 
(Suharno,1993) kekuatan adalah kemampuan otot untuk dapat mengatasi tahanan/beban, menahan atau memindahkan beban dalam melakukan aktivitas.
Bompa(1999), mendefenisikan kekuatan sebagai kemampuan otot dan syaraf untuk mengatasi beban internal dan eksternal.
Friedrich (1969) mengemukakan, kekuatan adalah kemampuan dari suatu otot untuk bekerja menahan beban secara maksimal.
Sajoto (1988) mengatakan bahwa “ Kekuatan adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam menggunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja”.
Harsono (1988) mengatakan bahwa “Kekuatan kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan”. 
Dapat disimpulkan kekuatan otot adalah kekampuan badan dalam menggunakan daya, sebagai daya penggerak dalam setiap melakukan aktivitas fisik serta dapat melindungi atlet dari cedera. 
Peningkatan kekuatan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain Luas potongan melintang otot (hipertropi), Jumlah fibril otot (hiperplasia),Ukuran rangka tubuh (skelet), Inervasi otot (syaraf pusat dan syaraf tepi), Sistem kimia otot (glikogen dan ATP), Psikologis, Usia, Jenis kelamin. Melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan seperti tersebut diatas, secara objektif akan terasa wajar jika dengan postur tubuh yang relatif kalah besar dengan para pemain sepak bola eropa, pemain timnas indonesia selalu tampil kurang maksimal jika bertanding dengan tim-tim dari eropa, amerika, afrika, dan asia barat. Olahraga sepakbola, bolavoli atau bolabasket merupakan olahraga yang mengandalkan fisik, terutama daya tahan dan kekuatan. Secara logika sederhana atlit dengan panjang tungkai lebih pendek akan kalah kecepatanya dengan atlet yang mempunyai tungkai lebih panjang. Dalam bolavoli, pemain yang lebih tinggi akan mudah untuk melakukan blok hasil smash dari pemain yang lebih pendek. 
Mencapai prestasi maksimal khususnya dalam komponen kekuatan, hal yang paling utama harus dilakukan adlah memilih atlet yang memiliki postur tubuh yang ideal untuk kecabangan terkait, selanjutnya baru diberikan menu latihan yang sesuai dengan kebutuhan kecabangan dan kebutuhan atlet. Latihan kekuatan tidak serta merta bisa ditingkatkan dengan cepat, ada setidaknya tiga fase yang harus dilewati untuk memperoleh kekuatan otot yang maksimal. 
Fase latihan kekuatan yang pertama adalah fase anatomi. Diberikan pada Tahap Persiapan (Preparation Period) Tujuan utama fase ini adalah:
Untuk melibatkan sejumlah kelompok otot.
Untuk mempersiapkan otot-otot, ligamen, tendon, dan persambungan/persendian.
Untuk mempertahankan fase latihan yang lama. 
Keseimbangan kerja pada flexors dan extensors masing-masing sambungan.
Keseimbangan dua sisi tubuh, secara khusus bahu dan lengan.
Kompensasi kinerja pada otot-otot antagonis.
Penguatan pada otot-otot peseimbang (stabilizer). Metode latihan yang dapat diterapkan diantaranya adalah Latihan Sirkuit (Circuit Training).
Fase yang kedua adalah fase kekuatan maksimal. Fase kedua ini biasanya berlangsung pada mikro akhir tahap persiapan umum sampai dengan akhir persiapan khusus. Untuk mencapai peningkatan kemampuan maksimal ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan latihan pembentukan otot (Hypertrophy) dan latihan perbaikan Koordinasi Intramuskular (Neural Activation).  Hipertropi merupakan Peningkatan diameter dan jumlah miofibril disertai dengan peningkatan protein kontraktil (filamen miosin), jumlah kapiler, kekuatan jaringan ikat, tendon dan ligementum. Perubahan biokimia:  peningkatan PC (phospho-creatine), ATP (adenosine triphosphate), glikogen, enzim-enzim anaerobik dan enzim-enzim aerobik. Hipertropi otot dapat diperoleh optimal jika beban latihan 65 – 80 % dari maksimum dengan 6 – 10 kali angkatan dalam 3 – 4 set atau lebih (Dick, 1989). Koordinasi Intramuskular (Neural Activation) bertujuan untuk memperbaiki aktivasi sejumlah benang otot secara sinkron sehingga latihan ini akan mampu meningkatkan kemampuan gerak yang cepat, akan memperoleh peningkatan kekuatan yang besar dalam waktu singkat. Dengan latihan perbaikan Intramuskuler ini, pembesaran penampung otot tidak terjadi atau kecil sekali, penyebabnya adalah intensitas latihan yang mencapai sub maksimal atau maksimal. Karena intensitas yang begitu tinggi, jumlah repetisi yang mampu dilakukan juga sedikit, berarti rangsangan pada otot juga hanya berlangsung singkat. Bertambahnya kekuatan pada latihan dengan perbaikan kordinasi Intramuskuler ini terjadi karena perbaikan system saraf dan faktor Biokimia. Oleh karena itu, latihan Koordinasi Intramuskular yang dilakukan dengan baik dan penuh akan menghasilkan kekuatan yang eksplosif. Hal ini dibutuhkan oleh cabang olahraga yang dominan kecepatan. 
Fase latihan kekuatan yang ketiga adalah fase kekuatan kecepatan atau Speed Strength. Untuk cabang olahraga yang dominan kecepatan, latihan ini berlangsung pada tahap kompetisi (Pra dan Kompetisi Utama) Tujuan latihan kekuatan yang cepat adalah meningkatkan kecepatan kontraksi otot yang menentukan prestasi di cabang olahraga tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut maka syarat latihannya adalah Memakai beban latihan/tahanan yang lebih ringan atau memakai beban latihan/tahanan yang beratnya sama dengan peralatan yang dipakai dalam pertandingan Selanjutnya latihan ini harus dilakukan dengan kecepatan gerak yang setinggi-tingginya. Latihan kekuatan yang cepat baru akan efektif hasilnya, apabila latihan kekuatan yang cepat didahului dengan latihan untuk meningkatkan kekuatan yang maksimal. Jadi untuk mendapat kekuatan yang cepat latihannya harus dilakukan dengan urutan metode latihan, yang pertama adalah tingkatkan kekuatan maksimal dan yang kedua latihan harus diikuti latihan kekuatan yang cepat yang mendekati gerak tehnik cabang olahraga yang bersangkutan agar kecepatan kontraksi bisa ditingkatkan. 
Peningkatan kondisi fisik menurut para ahli akan bisa dilihat peningkatanya secara signifikan jika sudah dilatihkan minimal 6-8 minggu, jika kekuatan terdapat tiga fase, maka dibutuhkan setidaknya 24 minggu atau enam bulan untuk melihat peningkatan yang ditimbulkan dari latihan. Watu sekian lama tersebut hanya untuk melatih satu komponen kondisi fisik, belum komponen fisik yang lainya. Secara teoritis seperti tersebut diatas, maka fenomena training center (TC) yang dilakukan beberapa atau seluruh atlit kita selama 1-2 bulan adalah tidak sesuai dengan teori yang terdahulu. Latihan yang dilakukan dalam waktu yang relatif singkan tidak terlihat peningkatanya. Seyogyanya peningkatan prestasi olahraga adalah sesuai dengan prinsip-prinsip latihan dan komponen-komponen latihan. (wallahua’lam bisawaf). 

Sabtu, 16 Mei 2015

QNB League, Riwayatmu Kini.

   Bersyukur, gembira, sedih, terharu atau kecewa adalah rasa yang ada setelah pengumuman dari komite eksekutif PSSI hari ini sabtu 2 mei 2015 terkait penghentian ISL atau yang kita kenal sekarang QNB League. "kompetisi ISL (Indonesia Super League) 2015 dinyatakan force majeure sehubungan dengan dengan kondisi luar biasa di luar PSSI yang menyebabkan kompetisi tidak bisa berjalan dengan baik, kompetisi tidak bisa tuntas diselesaikan, jadi kompetisi dihentikan ". ujar Wakil Ketua Umum PSSI, Hinca Panjaitan, dikutip dari situs resmi PSSI.
   QNB League nurut Wikipedia adalah salah satu kompetisi sepak bola profesional yang dikelola oleh PT.Liga Indonesia, yang musim lalu bernama ISL. terkait sponsor penyelenggaraan nama ISL akhirnya berganti menjadi QNB. Liga QNB memiliki lebih dari 300 pertandingan dalam satu musim, jika minimal satu pertandingan hasil penjualan tiketnya mendapatkan 100 juta rupiah, berapa yang didapat dalam satu musim liga? hitung sendiri ya guys. 
   Sejak pengumuman penghentian QNB awal mei lalu sampai sekarang, pembahasan tentang hal terkait tidak ada hentinya, mulai media cetak maupun elektronik, paling jeda sebentar karena adanya kasus prostitusi artis. karena memang dampak yang ditimbulkan dari penghentian perhelatan akbar dinegeri ini selain pemilu cukup multi efek. sebenarnya kita harus objektif melihat masalah ini, kalau perlu kita komen dari semua sudut pandang. mulai dari sudut pandang politik, sudut pandang statuta FIFA, sudut pandang pemain, suporter, calo tiket, bandar taruhan dan sebagainya. masing-masing dari mereka punya argumen tersendiri terkait masalah ini.
   Dari penghentian QNB League yang harus kita cermati adalah hikmah dan solusi dibalik kejadi luar biasa ini, hikmah yang utama adalah sebagai sarana intropeksi diri, mulai dari pengurus PSSI yang merasa benar dengan dasar Statuta FIFA-nya, Menpora beserta BOPI yang merasa benar dan bersih terkait kasus klub peserta QNB. Para Pelatih dan staf kepelatihan yang bingung merancang program latihan karena adanya cuma Liga Pra_Musim aja, para pemain yang takut ga bisa makan karena ga pernah main dan ga pernah latihan, para bandar judi yang omsetnya menurun karena ga ada laga QNB dan beralih ke sabung ayam, hehehe. 
   Itu semua harus benar-benar dipikirkan solusinya yaitu duduk bareng dari semua elemen. dicermati dan dianalisis kesalahnya, dirumuskan apa yang akan diselesaikan, ditentukan metode penyelainya dan diselesaikan maslahnya dengan proses yang sitematis, metodologis, urut-urut. (mirip penelitian adek2 semester 7). semoga masalah sepakbola indonesia segera kelar sehingga peringkat sepakbola Indonesia di FIFA bisa merangkak naik, jangan sampai kalah dengan negara2 tetangga yang jumlah penduduknya sedikit atau kalah sama negara yang lagi dilanda konflik. 
Maju sepak bola Indonesia..!! Salam OLahraga...!!!




Kamis, 19 Februari 2015

Mengingat Kembali - "KKN"

Berminggu-minggu terakhir kita dimanjakan dengan berita tentang Polri VS KPK. Pusing-pusing sedap dengerinya. karena sebagai orang awam saya ga begitu ngurus dengan apa yang terjadi pada orang-orang atas sana, tetapi disisi lain tertarik juga mengikutinya. hitung-hitung belajar tentang karakter orang lain dilihat dari gaya bicaranya, gaya berpakaian, dan banyak lagi yang dapat diambil pelajaran selain konteks yang dibicarakan. Mencoba mencermati apa yang dipermasalahkan dari dua institusi terhormat tersebut jadi ingat jaman waktu SD doloe. bukan hanya "korupsi" yang dibahas di acara TV, melainkan "KKN" Korupsi Kolusi dan Nepotisme. satu kesatuan utuh yang menghancurkan negara. Akhir-akhir ini untuk dua hal yang terakhir sangat jarang disebut, saya pun terakir kali membicarakan hal tersebut pada saat kuliah filsafat dan mendapat tugas membuat makalah tentang hal tersebut, dan kami mendiskusikanya diwaruh "HIK" saat perjalanan wisata bersama teman-teman saat itu. masih sangat ingat saat itu kita membicarakan hakekat ketiga hal tersebut. temen saya yang almarhum Sandi bilang, "ga usah sok-sokan bilang KKN kalau kita ga ngerti hakekatnya atau bahkan kita sendiri masih terbelit haltersebut didalamnya karena ketidaktahuan kita dan keterbiasaan akan budaya KKN." 
Yang pertama adalah "Korupsi". korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere = busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik, menyogok) menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. pengertian lain adalah Penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang dengan melakukan perubahan ketentuan yang baik menjadi buruk dilihat dari segi moral, cara atau tindakan, dengan bertujuan untuk memenuhi kepentingan pribadi atau golongan, sehingga merugikan negara atau kepentingan umum.Korupsi adalah  perbuatan manusia yang bersifat alami, seperti halnya dengan perbuatan-perbuatan yang lain, sehingga korupsi dapat saja terjadi di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Hal ini karena Tuhan melengkapi manusia dengan kompetensi tertentu yang memungkinkan manusia dapat berbuat korup.Karena korupsi merugikan negara dan kepentingan umum maka dipandang sebagai tindak kriminal, dan pelanggarnya dikenai sanksi hukum sesuai dengan KUHP.
Yang kedua adalah "Kolusi". Kolusi adalah  kerjasama atau persekongkolan secara diam-diam untuk maksud tidak terpuji. dan tentunya merugikan orang lain. kolusi merupakan sikap dan perbuatan tidak jujur dengan membuat kesepakatan secara tersembunyi dalam melakukan kesepakatan perjanjian yang diwarnai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu sebagai pelicin agar segala urusannya menjadi lancar. 
yang terakhir adalah "Nepotisme". Kata nepotisme berasal dari bahasa inggris, yaitu nepotism, artinya kecenderungan untuk mengutamakan ( menguntungkan ) sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan , pangkat di lingkungan pemerintah, atau tindakan memilih kerabat atau sanak saudara sendiri untuk memegang pemerintahan. Nepotisme adalah lebih memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya. Kata ini biasanya digunakan dalam konteks derogatori. Kata nepotisme berasal dari kata Latin nepos, yang berarti “keponakan” atau “cucu”. Pada Abad Pertengahan beberapa paus Katholik dan uskup- yang telah mengambil janji “chastity” , sehingga biasanya tidak mempunyai anak kandung – memberikan kedudukan khusus kepada keponakannya seolah-olah seperti kepada anaknya sendiri. Beberapa paus diketahui mengangkat keponakan dan saudara lainnya menjadi kardinal. Seringkali, penunjukan tersebut digunakan untuk melanjutkan “dinasti” kepausan. kalau sekarang untuk melanjutkan dinasti disebuah kantor pemerintahan lah mungkin. kalau diperusahaan pribadi sie menurut aku ga papa. kalau di instansi pemerintahan itu yang sangan tak elok dipandang. bisa menimbulkan fitnah yang luar biasa, dan juga buat orang lain berdoasa karena orang lain akan selalu ber"suuzon". 
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme dan Suap (KKN) di Indonesia bukan lagi merupakan sebuah fenomena, melainkan sudah merupakan fakta yang terkenal di mana-mana dan bahkan mungkin sudah menjadi gaya hidup. Kini, setelah rezim otoriter Orde Baru tumbang, tampak jelas bahwa praktik KKN selama ini terbukti telah menjadi tradisi dan budaya yang keberadaannya meluas, berurat akar dan menggurita dalam masyarakat serta sistem birokrasi Indonesia, mulai dari pusat hingga lapisan kekuasaan yang paling bawah.

Kamis, 25 Desember 2014

MINDSET ATAU POLA PIKIR

Banyak perbincangan disekitar kita yang memanfaatkan kata-kata itu, tapi kalau ditanya tentang apa sebnarnya hakekat mindset/pola pikir itu sendiri kadang kita klabakan. Katanya si James Arthur Ray, penulisnya “the science of success” mengatakan kalau mindset adalah sebuah gugusan keyakinan nilai-nilai, identitas,ekspektasi, sikap, kebiasaan, opini, polapikir tentang diri anda dan hidup.  Melalui pola pikir kita bisa memaknai apapun yang kita lihat dan alami dalam hidup. So,, pola pikir penting ga bagi kehidupan kita? Penting untuk dipelajari atau tidak? Mempengarui dalam menyelesaikan masalah atau tidak? Sampai pada menentukan nasib diri kita ga si-mindset itu? Jangan mau kalau otakmu sampai brocel-brocel, begitu kata Cak Lontong di sebuah media promosi produk minuman.
Dilihat bahasanya sebenarnya pola pikir bisa dimaknai bahwa sesungguhnya pikiran itu mempunyai pola, hehehe.. untuk membuat agar pola itu tersistem dengan baik maka kita harus bener-bener cerdas, sehingga pertanyaan-pertanyaan diatas dapat terjawab dengan mudah.  Selanjutnya apakah pola pikir itu merupakan bawaan atau bentukan? Jika pola pikir merupakan bawaan aku yakin Tuhan azawajala pasti bikin pola pikir yang baik yg statis, jadi keteraturan dalam dunia ini terjaga. Tapi ternyata dunia ini diisi oleh berbagai macam kepentingan, berarti pola pikir itu merupakan bentukan, bisa berubah sesuai keinginan empunya. Pola pikir menggerakkan perilaku tertentu, dan setiap perilaku tersebut pasti ada konsekwensinya. Sebenarnya setiap orang bebas memikirkan hal yang mau dipikirkanya,termasuk memikirkan Tuhanya, atau memikirkan siapa jodohnya kelak (buat yang jomblo). Namun pasti terikat pada konsekwensi dari pikiran tersebut, setiap orang juga bebas berperilaku apapun, tapi pasti terikat pada konsekwensi, jadi kesimpulanya kita bebas memilih sekaligus terikat akan konsekwensi, jos kan????
Pola pikir terbentuk dari informasi terdahulu, sehingga pola pikir sangat masih bisa diperbaiki, atau bahkan berubah total, setiap orang bukan hanya bisa learn, tp juga unlearn dan kemudia relearn. Liat tuh yang diberitakan di media masa sekarang, banyak mantan ustad atau orang-orang alim terjerat kasus korupsi, atau kasus lain yang memberitakan seorang penjahat kelas kakap menjadi seorang pendakwah, entah bener atau tidak, setidaknya hal itu bisa dijadikan contoh betapa mudahnya pola pikir seseorang berubah, dari yang awalanya berfikir bahwa neraka itu ada menjadi berfikir bahwa neraka itu hanya imajinasi orang yang takut.LOL.
Untuk menjadikan pola pikir ini menjadi baik harus terkontrol dalam arti menempatkan diri dalam lingkungan yang baik, pendidikan yang baik, berusaha berfikir dari berbagai sudut pandang agar lebih bijak, tidak apatis, atau bahkan dengan bantuan orang lain yang berkompeten dibidang pola pikir ini, yang agama muslim ya datang aja ke pak ustadz, bertobat, hidup sesuai alquran n assunah, untuk agama lain ya segera kembali ke agamanya masing-masing. dan pastinya proses untuk merubah pola pikir setiap orang berbeda-beda, ada yang cepet dan ada pula yang butuh waktu bertahun-tahun, yang jelas pola pikir harus dibentuk sejak dini, sebagai orang tua dari anak harus mengajari anaknya dengan hal-hal yang positif, untuk diri sendiri sudah pastinya. Untuk umat beragama satu indikator pola pikir pasti sudah tersusun dengan baik.
Kebetulan lagi seneng-senengnya berolahraga, semua atlit menurut saya harus punya mindset dan visi yang jelas. Apalagi untuk atlet untuk nomor beregu. Kalau ga punya visi yang jelas ya bakalan tidak berprestasi. Walaupun faktor prestasi dalam olahraga yang utama adalah fisik, teknik, taktik baru setelahnya adalah mental. Dengan pola pikir yang baik InsyaAllah kualitas hidup juga akan menjadi baik, semua tidak asal GG/GacoGabrus #kata temenku yang asli Solo, tetangganya Pak Presiden, hehehe. Dan tentunya dibarengi dengan selalu berdoa pada yang maha kuasa.

Selasa, 23 Desember 2014

PENGEMBANGAN EVALUASI KOGNITIF UNTUK PENDIDIKAN JASMANI.

Judul di atas sangat sesuai dalam rangka penerapan K-13 yang sedang gencar2nya distop pelaksanaanya. (Baca:https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0CCcQFjAC&url=http%3A%2F%2Fwww.infosumbar.net%2Fberita%2Fberita-nasional%2Finilah-bunyi-surat-edaran-penghentian-kurikulum-2013%2F&ei=fJ-XVMieJIuXuATG64LYBw&usg=AFQjCNGcDnwRz3Xb00AOVYwf2V8Z1fu2EA&sig2=gB4Xb7Tt-Ef740fgdajHsw&bvm=bv.82001339,d.c2E). Di beberapa wilayah seperti jawa timur tetap melaksanakan K-13. Sebenarnya secara hakekat, proses pembelajaran antara CBSA sampai dengan K-13 adalah sama, proses membuat anak2 yang tidak bisa menjadi bisa, batas minimal adalah “standart proses”, dalam arti prosesnya baik maka hasil akan selalu mengikuti gimana proses itu dijalankan. Dalam pembelajaran jasmani yang menurut banyak temen2ku yang berasal dari jurusan lain itu katanya enak. “Tinggal kasih bola selesai”. Ternyata mempunyai sisi evaluasi dan proses yang cukup kompleks. Bukan hanya gerak saja yang dinilai tapi juga faktor yang menyebabkan kenapa gerak bisa menjadi baik juga harus di evaluasi dengan seksama. Teori perkembangan gerak menyebutkan bahwa gerak itu punya fase belajar, dan salah satu fase belajar gerak adalah “fase kognifif”. *udah tes kognitif belum tuh atlet2 timnas? Hehehe. So, jika kita memiliki kognitif yang baik setiknya keterampilan gerak kita ga jelek2 amat. Atau akan lebih mudah melatih anak/atlet dengan kognitif yang baik dari pada melatih anak/atlet dengan kognitif yang kurang. Kita ambil contoh dari luar negeri nan jauh disana “jose mourinho” Mourinho belajar di universitas di Lisboa dan meraih gelar sarjana dalam bidang ilmu olah raga dengan tesis mengenai metodologi sepakbola. (dari wikipedia). Kita buat tesis dengan tema satu teknik dasar aja ga slesai-selesai sampai surat DO menghampiri rumah kita. #mikir. Selanjutnya kita mulai satu persatu membahaas tentang tema di atas. selengkapnya ----->>>>

Pengembangan Evaluasi Kognitif Dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani

or https://www.scribd.com/doc/250897118/Pengembangan-Evaluasi-Kognitif-Dalam-Pembelajaran-Pendidikan-Jasmani

Sabtu, 05 April 2014

FAVORITE TEACHER

Walaupun pada saat sekolah ga pinter-pinter banget, minimal dari beberapa aspek kecerdasan masih memenuhi lah dalam kategori baik. Hal itu tidak terlepas dari bimbingan, dorongan, motivasi dari para guru sejak TK sampai Kuliah. Berikut ini para guru-guru yang menurut aku sangat berpengaruh terhadap mindsetku saat ini.

1.SD
Sekolah di SD pinggiran kota kecamatan pacitan, yaitu SDN Semanten cukup membuatku bangga. Walaupun berasal dari SD Imbas tp tetep bisa lanjutkan ke SMP terbaik di Pacitan, hal itu tidak terlepas dari para guru-guru yang baik banget dan super cerdas. Buat aku guru SD memang luar biasa, bisa hadapi sifat dan perilaku anak kecil sampai anak besar yang punya kebiasaan berlari, melempar, menendang. Hehehe  Guru paling hebat saat itu buat aku adalah Pak Ahmad Djazuli, S.Pd, selain pinter, cerdas, dan tegas, beliau orangnya sangat sederhana dan akrab dengan anak-anak. Selalu meluangkan waktu buat anak2 yang berlebihan, baik kelebihan otak (pintar), kelebihan tenaga (usil) dan semua spesies anak-anak.

2. SMP
Masa SMP atau kata Anita J harrow masa dewasa awal merupakan masa perubahan yang cukup signifikan dalam kehidupan seorang manusia, awal pencarian jati diri merupakan hal terpenting dari segala hal, mungkin dalam hal ini lebih banyak pencarian jati diri yang negatif. Hingga pada saat SMP kurang begitu berkesan, hal itu mengimbas pada ingatanku akan para guru-guru yang membimbing memasuki masa alay pada saat itu, mungkin ada beberapa yang masih ingat karena masih sering berinteraksi, salah satunya Mr. Sukatno, S.Pd., M.Pd(M.Ag)  karena pada saat pelajaran beliau aku ga pernah dapat nilai 7, selalu dapat 6. Gara2 beliau keterampilan berbahasa inggrisku tidak pernah beranjak menjadi baik. Tp disisi lain beliau tetap guru paling baik lah.

3.SMA
Kisah paling indah adalah waktu SMA, begitu kata lagu jaman dulu yang sering aku dengar saat bapak ibuku muter kaset, memang benar. adanya Cuma senang dan senang sama seperti pramuka “disini senang disana senang”.  Pergeseran perilaku dan pola pikir sudah terjadi saat SMA, mulai memikirkan akan kuliah dimana, bagaimana bisa PMDK (jaman dulu), bagaimana dapatkan pacar, sungguh luar biasa keras otak diperas untuk menyelesaikan masalah2 saat sma. Saat SMA aku punya guru fisika yang sangat hebat, saat itu beliau tidak begitu disukai sama anak2, karena apa yang diajarkan tidak banyak yang keluar saat ujian, tp aku sangan suka dengan beliau karena analogi2 yang dipakai dlam pembelajaran cukup menarik. Pada saat itu memang model pembelajaran beliau kurang relevan dengan kebijakan sekolah yang menginginkan drill soal agar siswanya “hapal”. Tp untuk model pendidikan saat ini “pendidikan karakter” beliau sangat sesuai (menurutku). Beliau adalah Suhusada, S.Pd. dengan gaya khasnya membetulkan celana, mulailah bercerita tentang sesuatu yang kadang ga nyambung tp cukup inspiratif dan tentunya masih dalam substansi materi pembelajaran saat jam itu.

4.SARJANA
Pengen masuk jurusan hukum atau teknik di kota Jogja atau Solo tp ternyata terjerumus dalam jurang yang sekarang sangat aku nikmati, pada saat hari pendaftaran PMDK terahir ketemu temen istimewaku alm.SatriaSandy diajak masuk jurusan Olah Raga di UM Malang, kata dia kuliahnya enak, Cuma lari-lari dan maen bola. Asekk, ga akan mikir. Ternyata prediksi itu salah total. Ternya kuliahnya cukup merepotkan barisan pertahanan otak kanan dan otak kiri. Udah capek suruh mikir lagi, Istimewa. Di Jurusan Olahraga UM malang nama Prof. Dr. ME. Winarno, M.Pd adalah nama paling terkenal, karena memang yang bergelar profesorbaru beliau, terlepas dari hal tersebut Prof. Win merupakan salah seorang yang paling inspiratif dalam hidupku,  selain cerdas dan baik, beliau cukup bijaksanadan tentunya seorang yang Alim. Aku juga dapat kata2 yang nurut aku cukup keren yaitu “membijaksanai’ bukan “menyikapi”, kata2 itu aku dapat saat bimbingan skripsi dengan beliau. Hehehe.  Makasih Prof.Win

5.MAGISTER
Kesampaian juga kuliah di kota solo, melanjutkan studi magister di UNS. Prof. Agus Kristianto mungkin dosen favorit dan cerdas dari mahasiswa pasca IOR, namun yang inspiratif buat saya adalah Prof. Dr. Sugiyanto. Cukup kaget dan takut saat konsultasi sama Prof.Win terkait siapa yang jadi pembimbing tesis dan Prof.Win mengatakan kalau Prof.Gi’ yang harus dijadikan pembimbing, maklum aja pada saat kuliah beliaulah dosen yang sangat “ditakuti”. Sampai2 Cuma sedikit  yang mw ngambil pembimbing beliau.tp setelah berjalan semuanya baik2 saja . satu setengah tahun lebih, dan hampir dua tahun aku menyelsaikan tesis, bukan waktu sebentar untuk ukuran pasca UNS yang banyak meluluskan magister dalam satu setengah tahun. Tp efek domino yang ditimbulkan dari seringnya berinteraksi dengan beliau cukup signifikan. Minimal bisa mempelajari sedikit demi sedikit dan semoga bisa mencontoh kebijaksanaan dari Prof. Dr. Sugiyanto. Matursuwun Prof.Gi’

demikian beberapa guru yang telah berjasa menjadikan saya menjadi seperti saat ini. sebenarnya masih banyak guru-guru lain yang juga menggembleng saya selama ini. saya ucapkan maturnuwun yang banyak untuk panjenengan semua. semoga kesuksesan dan kebahagian selalu menaungi anda semua. Amin. 

Siapa guru favoritmu sobat??

nb:maaf ya Prof. pict nya nyuri di google.hehe

Selasa, 14 Januari 2014

Intensity of Physical Exercise

Latihan olahraga merupakan adaptasi fisik yang sistematis melalui peningkatan kapasitas fisiologis tubuh secara bertahap terhadap kerja otot. Latihan yang tepat dengan hasil maksimal harus berdasarkan pada sistem energi yang terlibat dalam aktivitas otot sesuai dengan jenis olahraganya. Sistem energi pada otot ada tiga macam, yaitu sistem energi anaerobik alaktik, anaerobik laktik dan aerobik. Berikut tabel waktu kerja menurut persentase kontribusi sistem-sistem energi aerob/anaerob  (MacDougal, dkk, 1983:.42)
Max Effort
Work Time
Anaerobic
Alactic
Anaerobic
Lactic
Aerobic
5 sec
10 sec
30 sec
1 min
2 min
4 min
10 min
30 min
1 h
2 h
85
50
15
8
4
2
1
1
1
1
10
35
65
62
46
28
9
5
2
1
5
15
20
30
50
70
90
94
97
98
Dalam kegiatan olahraga ketiga macam sistem energi ini selalu terpakai bersama-sama pada saat dimulainya aktivitas, akan tetapi dalam proporsi yang berlainan. Kontribusi ketiga sistem energi ini tergantung dari intensitas aktivitas. Menurut Prof.Dr.M.Doewes, dr. Generalisasi semacam tabel tersebut dalam beberapa hal dapat menyesatkan. Pendekatan ini hanya bermanfaat untuk aktivitas yang berkesinambungan contohnya dalam sepak-bola yang berlangsung lama (1,5 jam) yang terdiri atas serangkaian ledakan-ledakan pelepasan energi berkecepatan tinggi 5 - 20 dtk yang dipisahkan oleh periode-periode pemulihan berintensitas rendah. Oleh karena itu, anggapan bahwa nomor-2 yang memakan waktu sangat singkat hanya menghendaki pelatihan anaerob, sedangkan nomor-2 dengan waktu yang lama hanya membutuhkan pelatihan aerob saja ”merupakan anggapan yang menyesatkan” (MacDougall, dkk, 1983).
Dalam melakukan latihan fisik harus benar-benar terukur, karena fisik merupakan komponen utama dalam prestasi olahraga. Hal tersebut tentunya erat kaitanya dengan metode evaluasi yang dilakukan pelatih terhadap atlitnya dalam menentukan takaran atau dalam hal ini adalah intensitas latihannya. Dalam menentukan intensitas latihan harus mengetahui parameter tertentu sebagai alat evaluasi. Ada beberapa metode atau parameter yang digunakan pelatih dalam menentukan intensitas latihan. Dalam bahasa yang sederhana yaitu untuk mengetahui ambang batas antara kerja dengan menggunakan sistem energi aerobik menuju sistem anaerobik ( anaerobic treshold). Sebelum membahas tentang parameter menentukan intensitas latihan kita harus tau apa sebenarnya hakekat dari “intensitas”. Kata intensitas berasal dari Bahasa Inggris yaitu intense yang berarti semangat, giat (John M. Echols, 1993: 326). Sedangkan menutrut Nurkholif  Hazim (2005: 191), bahwa: “Intensitas adalah kebulatan tenaga yang dikerahkan untuk suatu usaha”. Jadi intensitas secara sederhana dapat dirumuskan sebagai usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan penuh semangat untuk mencapai tujuan.
Jika dikaitkan dengan intensitas latihan, beberapa ahli mendefinisikan tentang intensitas sebagai berikut. Moeloek (1984:12) dijelaskan, “Intensitas latihan menyatakan beratnya latihan”. Kemudian Chu (1989:13) menyatakan, “Intensity is effort involved in performing a given task”. Jadi intensitas latihan adalah besarnya beban latihan yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Hidayat (1990:53) menyatakan, “Semua gerakan yang eksplosif memerlukan energi yang besar”. Ini berarti pengeluaran energi merupakan indikasi tingkat intensitas suatu pekerjaan.
Untuk mengetahui suatu intensitas latihan atau pekerjaan terdapat bebrapa metode, berikut beberapa metode yang bisa digunakan untuk menentukan intensitas latihan.

1.    Hert Rate
Harsono (1988:115) menjelaskan, “Intensitas latihan dapat diukur dengan berbagai cara, yang paling mudah adalah dengan cara mengukur denyut jantung (heart rate)”. Selanjutnya Katch dan Mc Ardle yang dikutip oleh Harsono (1988:116) menjelaskan:
a.    Intensitas latihan dapat diukur dengan cara menghitung denyut jantung/nadi dengan rumus: denyut nadu meksimum (DNM) = 220 – umur (dalam tahun). Jadi seseorang yang berumur 20 tahun, DNM-nya = 220 – 20 = 200.
b.    Takaran intensitas latihan
1)      Untuk olahraga prestasi: antara 80%-90% dari DNM. Jadi bagi atlet yang berumur 20 tahun tersebut taakaran intensitas yang harus dicapainya dalam latihan adalah 80%-90% dari 200 = 160 sampai dengan 180 denyut nadi/menit.
2)      Untuk olahraga kesehatan: antara 70%-85% daari DNM. Jadi untuk orang yang berumur 40 tahun yang berolahraga menjaga kesehatan dan kondisi fisik, takaaran intensitas latihannya sebaiknya adalah70%-85% kaali (220 – 40), sama dengan 126 s/d 153 denyut nadi/menit. Angka-angka 160 s/d 180 denyut nadi/menit dan 126 s/d 153 denyut nadi/menit menunjukan bahwa atlet yang berumur 20 tahun dan oraaang yang berumum 40 tahun tersebut berlatih dalam training sensitive zone, atau secara singkat biasanya disebut training zone.
3)      Lamanya berlatih di dalam training zone untuk olah raga prestasi: 45-120 menit dan  untuk olahraga kesehatan: 20-30 menit.
Menurut Fox jelas denyut jantung maksimal = 220 – umur, sedang menurut Richard Rost denyut jantung maksimal tergantung pada faktor-faktor biologis, usia, keterlatihan. Menurutnya ia harus dites dengan ECG kapan ia mengalami ischaemic. Menurut Richard, denyut latihan adalah 50% HRR+denyut istirahat, dimana HRR (heart rate reserve) = HRM (heart rate maximal) – denyut nadi istirahat. Menurut Karponen, denyut latihan = 80% HRR+denyut istirahat.

2.    Asam Laktat

Normal seseorang akan mengalami kelelahan bila ia bekerja terus menerus dengan tingkat kerja tertentu dan asam laktat di tubuhnya lebih dari 4 mmol/1 liter darah. Pengukuran dilakukan berkali-kali dengan tingkat kerja yang makin meningkat, dimana setiap peningkatan akan diambil darahnya dan diukur kapan kadar asam laktatnya 4mmol.Tingkat kerja ini bisa lari dengan kecepatan tertentu atau memakai Ergocycle yang beban terukur. Untuk atlet tertentuternyata pada saat ambang anaerobik didapatkan denyut jantung yang sangat berbeda dengan formula umur. Bila ia dalam ambang anaerobik, maka denyut jantungnya dianggap optimal. Sekarang ukuran denyut jantung yang memakai metode asam laktat dapat dipakai sebagai patokan baru bagi pelatih dalam melatih fisik yang bersifat aerobik.