Sabtu, 13 Juli 2013

Penelititian Pengembangan (R & D)



1.      Model Pengembangan
Pengembangan atau yang sering disebut sebagai penelitian pengembangan  dilakukan dengan maksud menjembatani jurang yang terbentang cukup lebar antara penelitian dan praktek. Degeng (2002:1) menyimpulkan arti dari penelitian pengembangan yaitu “penelitian ilmiah yang menelaah suatu teori, model, konsep, atau  prinsip, dan menggunakan hasil telaah untuk mengembangkan suatu produk”.
Penelitian pengembangan tidak selalu mengembangkan produk baru, bisa dengan menyempurnakan produk yang telah ada yang dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian pengembangan selalu diawali dengan adanya kebutuhan, permasalahan yang membutuhkan pemecahan dengan menggunakan suatu produk tertentu. Model pengembangan yang digunakan peneliti adalah model pengembangan (research and development) Borg and Gall (1983:775). Adapun langkah-langkahnya yaitu:
a.       Research and information collecting (Studi pendahuluan)
b.      Planning (Perencanaan)
c.       Develop preliminary form of product (Pengembangan rancangan produk awal)
d.      Preliminary field testing (Uji lapangan awal)
e.       Main product revision (Revisi produk awal)
f.       Main field testing (Uji lapangan utama)
g.      Operational product revision ( Revisi produk kedua)
h.      Operational field testing ( Uji kelompok)
i.        Final Product Revision ( Revisi produk akhir)
j.        Dissemination and implementation (Diseminasi dan implementasi)
2.      Prosedur Penelitian Pengembangan
Sepuluh langkah pengembangan yang dikemukakan Borg dan Gall ada beberapa tahapan yang dilaksanakan oleh peneliti, dengan pertimbangan waktu, tenaga, dan biaya yang terbatas untuk menghasilkan produk  pengembangan. Untuk mengetahui peningkatan dari hasil penerapan pengembangan produk, maka peneliti melakukan eksperimen terhadap produk. Berikut contoh diagram alur pengembangan.




Adapun prosedur pengembangan yang digunakan oleh peneliti dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.      Tahap Pertama (Analisis kebutuhan)
Analisis kebutuhan meruapakan suatu langkah awal dalam suatu penelitian yang memiliki karakteristik berbasis masalah dan memunculkan solusi untuk mengatasi suatu masalah tersebut.  Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam penelitian, analisis kebutuan sangat penting dilakukan. Borg dan Gall (1983:753) “ menyimpulkan bahwa analisis kebutuhan merupakan pengumpulan informasi awal terhadap perbedaan kondisi yang ada dilapangan dan kondisi yang diinginkan, untuk kebutuhan pemecahan masalah yang ada.” Informasi awal yang dibutuhkan merupakan hal yang sangat penting sebagai awal penemuan terhadap masalah yang akan dijadikan sebagai perhatian utama dalam penelitian. Analisis kebutuhan sebagai suatu cara pengumpulan informasi awal dapat dilakukan dengan berbagai cara. Analisis kebutuhan juga merupakan cara untuk mengetahui tentang segala materi yang dibutuhkan dalam penelitian. Informasi awal dilapangan sangat diperlukan dalam penelitian pengembangan karena merupakan gambaran nyata kondisi yang ada dan sebagai suatu bahan kajian untuk ditemukan suatu kekurangan atau kelebihan dari suatu hal.
Analisis kebutuhan merupakan bagian dari langkah-langkah yang digunakan untuk mengetahui produk yang dikembangkan, dibutuhkan atau tidak oleh subyek, analisis kebutuhan dalam penelitian ini dilakukan dengan Intervieu bebas terpimpin dan rasionalisasi masalah oleh peneliti.
b.      Tahap Kedua (pengembangan produk)
1.      Kajian Teori
Mengkaji secara ilmiah materi yang kita gunakan dalam penelitian dan merupakan pijakan teoritik untuk mengembangkan produk sebagai hasil penelitian. Tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah melakukan kajian terhadap teori yang digunakan untuk mendukung penelitian. Borg dan Gall (1983:777) menyimpulkan, “kajian teori adalah pengumpulan informasi pendukung penelitian yang berhubungan dengan perencanaan pengembangan.” Kajian teori merupakan tahapan untuk mengkaji dan menelaah secara ilmiah materi yang akan digunakan dengan berlandaskan pada teori-teori empiris yang ada. Materi dalam penelitian ini adalah temuan masalah di lapangan, dimana akan dikembangkan produk untuk memberikan solusi terhadap masalah yang ditemukan sebelumnya pada studi pendahuluan.
2.      Pembuatan Produk Awal
Berdasarkan analisis kebutuhan sampai pada kajian teoritik yang dipaparkan pada bab II, langkah selanjutnya adalah pembuatan rancangan produk. Pembuatan produk pengembangan ini diawali dengan pembuatan ruang lingkup produk, adapun isi dalam pengembangan produk ini meliputi:
Bab  1: Pendahuluan
Bab 2: Kajian Teori.
Bab 3: Model latihan
Bab 4: Penutup.
Pemilihan teori-teori tersebut dilakukan peneliti dengan didasarkan pada logika berfikir empiris. Dalam penyusunan kajian teori dapat digunakan bentuk-bentuk penalaran yang dapat menunjukkan alur pola berfikir yang logis. Penulisan kajian teori dalam penelitian ini menggunakan penalaran deduktif. Winarno (2007:2) “Penalaran deduktif dimulai dari hal-hal yang bersifat umum dan menuju ke hal-hal yang khusus.” Hal yang cukup luas atau cukup besar cakupan bahasannya dikaji terlebih dahulu sehingga nanti akan mengerucut pada hal yang lebih khusus. Peneliti menggunakan penalaran deduktif dalam penyusunan kajian teori dengan mengungkap kajian terhadap olahraga hingga tinjauan yang mendukung terhadap penelitian yang disusun. Hal ini relevan dengan prosedur serta teori yang menjadi landasan dan dapat menunjukkan alur berfikir dari peneliti yang logis.
3.    Evaluasi Ahli
Tahap selanjutnya adalah evaluasi dari para ahli untuk kesempurnaan pembuatan produk yang dalam hal ini adalah model latihan beban dalam bolavoli. Borg dan Gall (1983:781) menyimpulkan, “Uji coba dengan evaluasi pakar adalah untuk mengetahui rancangan produk awal dapat di uji coba lapangan.” Sebelum produk hasil pengembangan awal diuji coba lapangan, maka harus dilakukan evaluasi untuk kelayakan substansi yang akan diuji cobakan, sehingga diperoleh tingkat validitas baik internal maupun eksternal yang cukup layak dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pelaksanaan evaluasi ahli ini untuk memperoleh tanggapan dan masukan dari para ahli untuk kesempurnaan pembuatan. Pelaksanaan evaluasi ahli ini menggunakan instrumen sebagai alat evaluasi terhadap produk pengembangan. Instrumen yang digunakan untuk uji coba dengan evaluasi ahli adalah dengan menggunakan kuisioner campuran dimana terdiri dari pertanyaan dengan jawaban tertutup (ditentukan sebelumnya), dan jawaban terbuka (jawaban langsung dari narasumber). Hasil review dari evaluasi ahli terdiri dari data kuantitatif untuk hasil evaluasi dengan skala likert dan data kualitatif untuk hasil evaluasi dengan pertanyaan dengan jawaban masukan dari narasumber.
4.      Revisi Produk
Produk direvisi sesuai dengan masukan dari para ahli untuk selanjutnya diuji coba pada kelompok kecil.
5.      Uji Coba Tahap I (kelompok kecil)
Tahapan yang dilakukan dalam uji coba kelompok kecil adalah dengan melibatkan subyek penelitian. Tahapan ini sebagai tindak lanjut dari persetujuan para ahli terhadap model yang dikembangkan. Borg dan Gall (1983:782) menyimpulkan, “Tujuan dari uji coba kelompok kecil adalah untuk mengetahui hasil produk pengembangan yang baru dalam skala yang kecil.” Hasil dari uji coba ini merupakan representasi kelayakan dan keberterimaan produk yang dikembangkan.
6.      Revisi Produk
Setelah uji coba kelompok kecil, maka dilakukan revisi dari akhir uji coba yang dilakukan sebagai perbaikan produk yang telah diuji cobakan.
7.      Uji coba Tahap II (kelompok besar)
Uji coba tahap II (kelompok besar) dimaksudkan untuk mencari saran dan penilaian dari subjek berkaitan dengan isi model. Uji coba kelompok besar melibatkan lebih banyak jumlah subyek penelitian. Tahapan ini sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan uji coba terbatas terhadap model latihan yang dikembangkan. Borg dan Gall (1983:783) menyimpulkan, “uji coba luas ditujukan untuk memutuskan bahwa produk pengembangan telah sesuai dan layak dengan tujuan yang ingin dicapai.” Uji coba ini untuk mengetahui keberterimaan dan kelayakan produk secara lebih luas sehingga dapat diuji tingkat efektifitasnya.
8.      Revisi Produk
Setelah uji coba kelompok besar, maka dilakukan revisi dari akhir uji coba yang dilakukan sebagai perbaikan produk yang telah diuji cobakan.
c.       Tahap Ketiga (Uji Efektifitas Produk)
1.      Eksperimen produk
Eksperimen dilakukan dengan tujuan mengetahui tingkat efektifitas produk pengembangan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Rancangan eksperimen menggunakan rancangan pretest dan postest dengan pemilihan kelompok yang di acak (two group pre test and post test design).


Tabel 3.2 Desain uji efektifitas produk
Subjek
Pre test
Perlakuan
Post test
R
X1
Latihan beban
X2
R
X1
Latihan konvensional
X2

Mekanisme pelaksanaan uji efektifitas hasil produk pengembangan ini dilakukan dengan membandingkan dua kelompok untuk kemudian dilihat hasilnya dari hasil pre test dan post tes.
2.      Laporan Hasil Produk Pengembangan
Hasil akhir berupa produk yang telah dihasilkan dari analisis kebutuhan, evaluasi ahli, uji coba kelompok kecil, uji kelompok besar, dan hasil eksperimen produk berupa model latihan beban untuk meningkatkan kemampuan fisik pemain bolavoli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar